Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Fisika

Metode demonstrasi menurut Sumantri dalam Nurhayati, dkk adalah suatu metode yang cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk tiruan yang dipertunjukkan oleh guru atau sumber belajar lain yang ahli dalam topik bahasan. Sagala dalam Miftahul juga mendefinisikan metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya.
Dengan metode demonstrasi proses penerimaan peserta didik terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Peserta didik juga dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung. Metode demostrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengajarkan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Pada prinsipnya metode pembelajaran ini akan mampu menciptakan suasana atau hubungan baik antara sesamapeserta didik sehingga ada keinginan dan kemauan dari peserta didik untuk menyaksikan apa yang didemonstrasikan. Selain itu, ketika demonstrasi dilaksanakan, peserta didik akan mendapatkan gambaran jelas tentang materi pelajaran yang sedang diajarkan. Dan dengan adanya metode demonstrasi ini, peserta didik akan lebih giat belajar karena mereka semua berharap tidak ada kendala ketika mereka diminta untuk mendemonstrasikan materi yang dipelajari.Pembelajaran dengan metode demonstrasi ini juga bisa mempergunakan alat peraga, akan tetapi demonstrasi akan menjadi tidak menarik apabila alat yang digunakan untuk mendemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh peserta didik dan metode demonstrasi ini akan menjadi efektif bila peserta didik terlibat langsung atau dapat mengikuti aktivitas tersebut, hal ini akan menjadi pengalaman tersendiri yang tidak mudah untuk dilupakan.
Berdasarkan dari beberapa kelebihan metode demonstrasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi merupakan suatu metode yang mampu mengantarkan peserta didik satu langkah lebih dekat dengan dunia nyata, dan tidak hanya berkecimpung dengan dunia teori, melainkan mampu memahamkan peserta didik sesuai dengan objek yang sebenarnya.

Sumber Referensi:

Miftahul, dkk. 2013. Model Pembelajaran Kooperatif melalui Lesson Study disertai Metode Demonstrasi pada Pembelajaran Fisika di SMA. Jurnal Pembelajaran Fisika, 2(3). Jember: Universitas Jember.

Nurhayati, dkk. 2014. Penerapan Metode Demonstrasi Berbantu Media Animasi Software Phet terhadap Hasil Belajar Siswa dalam Materi Listrik Dinamis Kelas X Madrasah Aliyah Negeri 1 Pontianak. Jurnal Pendidikan Fisika dan Aplikasinya (JPFA),4(2). Pontianak: FPMIPA dan Teknologi IKIP PGRI.

Share:
Read More

Pembelajaran Fisika

Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil dari memori, kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap orang. Wenger dalam Huda mengatakan “Pembelajaran bukanlah aktivitas, sesuatu yang dilakukan oleh seseorang ketika ia tidak melakukan aktivitas yang lain. Pembelajaran juga bukanlah sesuatu yang berhenti dilakukan oleh seseorang. Lebih dari itu, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan pada level yang berbeda, secara individual, kolektif, ataupun sosial”
Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga peserta didik mau belajar.
Ada pandangan yang menyebutkan bahwa pendidikan itu didapat oleh peserta didik, bukan diterima. Pandangan senada menyatakan bahwa guru tidak dapat memberikan pendidikan apapun kepada peserta didik, tetapi peserta didik itulah yang harus mendapatkannya. Pandangan-pandangan yang menekankan faktor penting keaktifan peserta didik ini tentu saja tidak bermaksud mengecilkan arti penting pembelajaran. Namun pada kenyataannya, pembelajaran menjadi sesuatu yang terabaikan. Memang pada akhirnya hasil yang dicapai oleh peserta didik dari belajarnya tergantung pada usahanya sendiri, tetapi bagaimana usaha itu terkondisikan banyak dipengaruhi oleh faktor pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
Untuk itulah pembelajaran hendaknya dipandang sebagai variabel bebas, yakni suatu kondisi yang harus dimanipulasikan, suatu rangkaian strategi yang harus diambil dan dilaksanakan oleh guru. Pandangan semacam ini akan memungkinkan guru untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
a)    Mengusahakan lingkungan yang menguntungkan bagi kegiatan belajar.
b) Mengatur bahan pelajaran dalam suatu organisasi yang memudahkan peserta didik untuk mencerna.
c)    Memilih suatu strategi mengajar yang optimal berdasarkan pertimbangan efektivitas dan kondisi psikologis peserta didik serta pertimbangan lainnya yang sesuai dengan konteks objektif di lapangan.
d)    Memilih jenis alat-alat audio visual atau media pembelajaran lain yang tepat untuk keperluan belajar peserta didik.
Pada waktu yang sama, pandangan tersebut akan menyarankan cara-cara yang dapat mendorong dan memotivasi peserta didik untuk siap, mau, dan mampu belajar.
Selain hal tersebut, istilah pembelajaran menurut Hamzah & Nurdin berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar, dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain, sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Sementara itu, pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan professional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Jadi, pembelajaran adalah suatu aktivitas yang dengan sengaja untuk memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan untuk tercapainya suatu tujuan, yaitu tercapainya tujuan kurikulum. Sementara itu dalam keseharian di sekolah-sekolah istilah pembelajaran atau proses pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya ada interaksi guru dan peserta didik dan antara sesamapeserta didik untuk mencapai suatu tujuan, yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku peserta didik. Sebenarnya belajar dapat saja terjadi tanpa pembelajaran, namun hasil belajar akan tampak jelas dari suatu pembelajaran. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan berlangsungnya proses belajar dalam diri peserta didik. Dalam pembelajaran hasil belajar dapat dilihat langsung. Oleh karena itu, agar kemampuan peserta didik dapat dikontrol dan berkembang semaksimal mungkin dalam proses belajar di kelas maka program pembelajaran tersebut harus dirancang terlebih dahulu oleh para guru dengan memperhatikan berbagai prinsip-prinsip pembelajaran yang telah diuji keunggulannya.
Menurut Kuspriyanto dan Sahat Siagian, Fisika merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam atau dikenal dengan sains. Sains merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. Sains didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang obyek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa sains merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penelaran matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian, pada hakikatnya sains atau fisika merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah. Sains memiliki dua sisi yaitu sebagai proses dan sisi lain sebagai produk. Proses sains merupakan upaya pengumpulan dan penggunaan bukti untuk menguji dan mengembangkan gagasan. Suatu teori pada mulanya berupa gagasan imajinatif dan gagasan itu akan tetap sebagai gagasan imajinatif selama belum bisa menyajikan sejumlah bukti
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran fisika merupakan proses belajar mengajar yang di dalamnya mempelajari alam dan kejadian-kejadiannya yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran fisika, pendidik dituntut mampu memilih pendekatan dan metode yang tepat dan sesuai agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Sumber Referensi:

Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Hamzah & Nurdin. 2011. Belajar dengan Pendekatan PAILKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara.

Kuspriyanto, Budi & Sahat Siagian. 2013. Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Kreatifterhadap Hasil Belajar Fisika. Jurnal Teknologi Pendidikan, 6(2). Medan: UNIMED

Share:
Read More

Kelebihan dan Kelemahan LAPS - Heuristik

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, salah satunya model pembelajaran LAPS-Heuristik. Seorang ahli bernama Shoimin mengemukakan kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran Logan Avenue Problem Solving - Heuristik (LAPS - Heuristik) sebagai berikut:
1)    Kelebihan-kelebihan LAPS - Heuristik yaitu:
a) Dapat menimbulkan keingintahuan dan adanya motivasi menimbulkan sikap kreatif.
b) Disamping memiliki pengetahuan dan keterampilan disyaratkan adanya kemampuan untuk terampil membaca dan membuat pertanyaan yang benar.
c) Menimbulkan jawaban yang asli, baru, khas, dan beraneka ragam serta dapat menambah pengetahuan baru.
d)   Dapat meningkatkan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang sudah diperolehnya.
e)  Mengjak siswa memiliki prosedur pemecahan masalah, mampu membuat analisis dan sintesis, dan dituntut untuk membuat evaluasi terhadap hasil pemecahannya.
f)    Merupakan kegiatan yang penting bagi siswa yang melibatkan dirinya, bukan hanya satu bidang studi tapi (bila diperlukan) banyak bidang studi.
2)    Kelemahan-kelemahan LAPS - Heuristik yaitu:
a)   Mankala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b)    Keberhasilan strategi pembelajaran membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c)   Tanpa pemhaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
 
Sumber referensi:
Shoimin, A. 2016. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Share:
Read More

Langkah-langkah LAPS – Heuristik

Berawal dari masalah yang belum diketahui cara penyelesaiannya, peserta didik akan terbawa ke dalam arus keingintahuan, dimana akan menumbuhkan motivasi belajarnya. Motivasi yang tinggi dalam belajar jelas akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir dan prestasi belajarnya. Materi pelajaran akan lebih lama diingat, karena dalam menyelesaikan masalahnya peserta didik mencari referensi dan menemukan cara penyelesaiannya sendiri. Dalam proses pembelajaran LAPS - Heuristik, peserta didik diajari untuk menyelesaikan melalui empat tahapan. Shoimin mengemukakan dalam model pembelajaran Logan Avenue Problem Solving terdapat empat langkah yang harus dilakukan yaitu:
1)    Memahami masalah.
2)    Merencanakan pemecahannya.
3)    Menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua (solusi)
4)    Memeriksa kembali hasil yang diperoleh (looking back).
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Polya dalam Priansa, (khususnya dalam pembelajaran matematika) adalah sebagai berikut:
1)    Memahami Masalah
Memahami masalah merupakan kegiatan mengidentifikasikan kecukupan data untuk menyelesaikan masalah sehingga memperoleh gambaran lengkap apa yang diketahui dan tanyakan dalam masalah tersebut.
2)    Merencanakan Penyelesaian
Merencanakan penyelesaian merupakan kegiatan dalam menetapkan langkah-langkah penyelesaian, pemilihan konsep, persamaan, dan teori yang sesuai untuk setiap langkah.
3)    Menjalankan Rencana
Menjalankan rencana merupakan kegiatan menjalankan penyelesaian berdasarkan langkah-langkah yang telah dirancang dengan menggunakan konsep, persamaan serta teori yang dipilih.
4)    Pemeriksaan
Pemeriksaan merupakan melihat kembali yang telah dikerjakan, apakah langkah-langkah penyelesaian telah terealisasi sesuai rencana sehingga dapat memeriksa kembali kebenaran jawaban yang pada akhirnya membuat kesimpulan akhirnya.
Menurut Krulik dan Rudnik dalam Priansa, menyatakan bahwa lima tahap heuristik yang mendasari proses problem solving adalah sebagai berikut:
1)    Membaca dan Berfikir
Dalam heuristik ini masalah dianalisis melalui berpikir kritis, fakta-fakta diuji dan dievaluasi, pertanyaan ditentukan, seting fisik divisualisasikan dijabarkan dan dipahami. Masalah ditranslasi dalam bahasa pembaca, hubungan-hubungan dibuat antar bagian-bagian dari masalah.
2)    Pengungkapan dan Perencanaan
Pada tahap ini pemecah masalah menganalisis data dan menentukan apakah ada informasi yang memadai, pengecoh dieliminasi, data diorganisasi dalam satu tabel, gambar, model dan sebagainya. Dari sini suatu rencana menemukan jawaban dikembangkan.
3)    Memilih Suatu Strategi
Heuristik ketiga ini dalam daftar diperhatikan oleh banyak orang sebagai heuristik yang paling sulit dari semua heuristik. Suatu strategi adalah bagian dari pemecahan masalah yang memberi arah kepada pemecahan masalah yang mengantarkannya kepada ditemukannya jawaban. Seleksi disarankan melalui dua tahap sebelumnya yang mendahului rencana heuristik. Setelah peserta didik berhasil dalam memecahkan masalah, mereka harus selalu latihan memecahkan masalah dengan masalah-masalah aktual. Mereka juga harus mencoba memecahkan masalah-masalah menggunakan berbagai macam strategi yang mungkin.
4)    Menentukan Suatu Jawaban
Di sini yang cocok dilakukan untuk menemukan suatu jawaban. Perkiraan, jika cocok, harus dimunculkan.
5)    Refleksi dan Perluasan
Pertama-tama jawaban harus dicek untuk ketelitian peninjauan jika kondisi awal masalah diberikan, dan jika pertanyaan telah dijawab dengan benar, tetapi masih banyak yang harus dilakukan pada tahap ini. Ini adalah tempat berfikir kreatif dapat dimaksimalkan. Penyelesaian alternatif harus ditemukan dan didiskusikan. Masalah dapat dirubah dan mengubah kondisi awal atau interpretasinya. Jika mungkin proses harus diperluas untuk menemukan suatu generalisasi atau konsep-konsep berdasarkan pada situasi ini. Variasi yang menarik dari masalah semula harus ditunjukkan dan didiskusikan oleh para peserta didik.
Tahapan di atas bersifat bebas dan tidak berurutan dan tentu saja orang yang terlibat dalam proses heuristik ini bergerak bolak-balik tidak beraturan. Akan tetapi setiap langkah-langkah individu membedakan tujuan yang akan dicapai dalam arti berkaitan dengan sub-sub keterampilan mereka. 
Sumber Referensi:
Priansa, D.J. 2015. Manajemen Peserta Didik dan Model Pembelajaran. Bandung: Alfa Beta.

Shoimin, A. 2016. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Share:
Read More

Pengertian Model Logan Avenue Problem Solving – Heuristik (LAPS - Heuristik)

Salah satu model dalam sebuah pembelajaran adalah model Logan Avenue Problem Solving – Heuristik (LAPS - Heuristik), yang didefinisikan sebagai berikut:
Menurut Krulik & Rudnick dalam Amalia, problem adalah suatu situasi yang tak jelas pemecahannya yang mengonfrontasikan individu atau kelompok untuk menemukan jawaban. Problem solving adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah tersebut. Jadi aktivitas problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah.

Menuru Shoimin bahwa model Logan Avenue Problem Solving adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam solusi masalah. Menurut Gunawan, LAPS-Heuristic adalah model pemecahan masalah matematika yang menekankan pada pencarian alternatif-alternatif yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, kemudian menentukan alternatif yang akan diambil sebagai solusi, kemudian menarik kesimpulan dari masalah tersebut. Dalam Ngalimun, dkk, dikemukakan LAPS (Logan Avenue Problem Solving) biasanya menggunakan kata tanya apa masalahnya, adakah alternatifnya, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Heuristik adalah bersangkutan dengan prosedur analitis yang dimulai dengan perkiraan yang tepat dan mengeceknya kembali sebelum memberi kepastian. Nurdin dalam Shoimin, menjelaskan bahwa Heuristic adalah suatu penuntun berupa pertanyaan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu masalah. Heuristic berfungsi mengarahkan pemecahan masalah (dalam hal ini siswa) untuk menemukan solusi dari masalah yang diberikan.
Menurut Maier dalam Priansa, heuristik diartikan sebagai tujuan yang hendak ditemukan, jalan atau proses semata-mata ditentukan oleh peserta didik itu sendiri. Peserta didik dituntun untuk menyelesaikan permasalahan dengan diberi pertanyaan pancingan yang mengarah kepada apa yang akan dicari. Heuristik yaitu suatu aturan yang melibatkan penyelidikan pada masalah yang lebih selektif. Menurut Polya menyatakan bahwa heuristik adalah kata sifat yang berarti "serving to discover". Penalaran heuristik merupakan penalaran yang tidak final dan tegas tetapi hanya masuk akal dan bersifat sementara yang tujuannya untuk menemukan jawaban suatu masalah yang diberikan.

Sumber Referensi:
Amalia, S. 6 Maret 2014. Story of My Life. LAPS-Heuristik, (Online), (http://shaoran1401.blogspot.co.id/2012/03/laps-heuristik.html, 3 Februari 2016)
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Utama

Gunawan, R.P. 15 Mei 2013. Berbagi Ilmu Itu Indah. Model Pembelajaran LAPS-Heuristic, (Online), (http: // proposal matematika 23. blogspot. co.id/2013/05/model-pembelajaran-laps-heuristic.html, diakses 4 Juni 2016)

Ngalimun, dkk. 2015. Strategi dan Model Pembelajaran. Banjarmasin : Aswaja

Priansa, D.J. 2015. Manajemen Peserta Didik dan Model Pembelajaran. Bandung: Alfa Beta

Shoimin, A. 2016. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Share:
Read More